Hampir Ratusan ribu butir telur bahkan bisa lebih tiap harinya dipasok ke seluruh wilayah Jabodetabek. Dan sudah pasti Jakarta mendapat jatah juga. Telur – telur ini berdatangan dari Blitar, Jateng dan Sumatera ( Palembang dan Lampung ). Meski peredaran telur ini pernah buyar ketika wabah flu burung merebak antara tahun 2002 – 2003, namun telur tetap mampu menunjukkan eksistensinya….
Mungkin kurang menarik untuk diperhatikan tetapi jika bicara tentang angka – angka di dalamnya maka sudah bisa dipastikan bahwa telur punya kekuatan yang dahsyat. Kebutuhan konsumen akan telur terus meningkat. Karena telur sangat populer tidak hanya dikalangan menengah ke atas tetapi juga menengah ke bawah.
Untuk jalur pemasaran telur ini, paling besar angkanya memang mengalir ke daerah Jabodetabek. Hal inilah yang membuat Jakarta menjadi tong sampah produksi telur.
Meski masih dibayang – bayangi ketakutan akan wabah penyakit flu burung, kondisi ini tidak menyurutkan popularitas telur. Lalu bagaimana dengan harganya?
Faktor yang mempengaruhi harga telur adalah distribusi. Para peternak tidak langsung menjual produksi telur mereka. Mereka lebih mempercayakan pemasaran kepada agen – agen utama. Dari agen utama itulah baru di distribusikan ke agen – agen kecil sampai ke pengecer baru ke konsumen.
Melihat hirarki ini membuat harga telur fluktuatif. Belum lagi di tambah dengan kenaikan harga BBM. Harga telur bisa mencapai berapa ya ?
DIarsipkan di bawah: Berita, Uncategorized | Ditandai: 2002, 2003, agen, BBM, distribusi, DKI, flu burung, fluktuatif, Ibu kota, jabodetabek, jakarta, konsumen, peternak, sampah, telur, tong sampah





